MATAKU ENGGAN TERPEJAM

Dalam hening berbicaralah naluriku. Memutar durasi waktu malam yang mengerikan. Teriakan hewan malam yang lantang seakan menegangkan dan menambah kegalauan. Semilir angin malam beradu memutar pusar malam dengan berbagai kejadian. Semua masih terdengar di telingaku. Itu pertanda bahwa aku tak dapat memejamkan mata.

“Ya Rabb....,” mata ini seakan sulit untuk kupejamkan. Sakit dan perihnya pelupuk mata kupaksakan. Sembab rasanya saat kantuk tak jua tiba!

“Saudaraku.... Betapa sangat berharganya karunia Allah untuk kita... rasa kantuk, rasa lapar, kemampuan untuk bernafas dengan sempurna, kemampuan untuk bicara dengan sempurna, kemampuan untuk tertawa lepas menghibur lara.... coba kita bayangkan! Seandainya dalam hidup ini kita hanya mempunyai salah satu dari nikmat tersebut betapa limpungnya kita.... seandainya dalam hidup ini kita tidak mendapatkan salah satu nikmat itu betapa susahnya hidup ini?? Inilah menjadi bahan perenungan kita bersama.....” Suara penyiar radio di program Muhasabah membuatku tercenung. Kini aku mengalami salah satu problema yang belum terpecahkan.

Ingin sekali aku segera tertidur dalam buai malam yang indah, bermimpi bertemu orang-orang tercinta, dan bangun esok hari dengan semangat saat segala asa menghadang titian jiwa.

***

Kukuruyukk.... kukuruyuukkk

Kokok ayam jantan terdengar jelas di telingaku. Itu berarti aku tak mampu pejamkan mata hingga pagi menjelma. Lantas aku terbangun dari kepura-puraan tidurku. Aku belum mampu terpejam walau sekejap! Betapa tersiksanya diriku. Lelah sudah aku menata mata. Letih sudah aku berdusta untuk tidur dengan pura-pura. Bosan sudah aku tidur dengan jiwa yang masih terus bicara. Aku ingin tidur dengan sempurna dan tenang bersama rasa kantuk yang mendera. Tapi kapankah ia datangnya???

***

“Sampai kapan aku seperti ini Nti?”

“Nti ga tau mbak.... apa yang kau fikirkan?”

“Aku tiada tau, tapi sungguh! Aku amat menderita, tidurku di kamar hanya pura-pura, aku tak dapat menikmati lezatnya berbaring, berbantalkan rahmat dan karunia Allah Nti...., Nti tau maksud anna?”

“Jangan.... jangan...”

“Jangan.... jangan.... apa Nti,” sahutku menyelidik.

“Mbak Ratih yang gag menjaga kebersihan. Bantalnya bau, selimutnya kotor, itu mempengaruhi lo mbak....,” binar kata Yanti padaku.

“Enak aja... Sori lah yaw... Harum atuh baunya...”

“Ruangan kamarnya yang dekil??”

“Sori ukht!! Clean!! Tapi sungguh aku tak bisa tidur. Aku hanya membolak-balikkan tubuh dengan sandiwara yang letih. Hingga aku menangis meratap ke Allah... tapi tak datang!! Aku harus gimana Nti??”

“Kebanyakan kafein ya?”

“Enggak! Aku gag pernah mencicipi hal sedemikian,” lanjutku membela diri.

“Kalau begitu aku tahu sebabnya...,”

“Apa??”

“Kasmaran ma ikhwan!”

“Enggak ukhti, aku tidak sedang kasmaran, kasmaran dengan ikhwan mana?? Siapa??”

“Mana aku tau! Kan ya mbak sendiri yang ngejalani,”

“Tolong Yan... beri aku solusi,”

“Ini solusi yang sadis ya... pake bawang... di potong tyus di colekkan ke mata, ntar perih, trus nangis... dan ujung-ujungnya terpejam terus dan akhirnya tidur,” solusi Yanti yang mengejutkanku.

“Itu tips sehat atau penyiksaan?? Aku ingin tidur sewajarnya ngerti!” pupusku. Sementara Yanti tetap senyum-senyum menatapku.

***

Masih sama.

Sudah 4 hari ini aku bersandiwara dalam limpung di atas bed yang bisu. Tak ada yang aku fikirkan! Aku tidak dalam kelaparan, tapi... rasa kantuk itulah tak kunjung datang.

“Masih hidupkah aku?? Hingga aku tak punya kantuk... masih wajarkan diriku? Ya Allah... dalam keadaan susah seperti ini aku baru mengingatmu... itulah sifat burukku,”

Kembali memoriku berputar. Membayangkan betapa indahnya tidur. Ketika esok hari ku bangun, hadirlah cerah sang surya membangun diri dengan penuh dengan kemenangan dan segala harapan. Tapi dimanakah rasa kantuk yang kurindukan ini???

Posisi tidur dan suasana di kamar tidur telah aku ubah menjadi istana kecil tempat aku bernaung. Tapi hasilnya?? Nihil! Jangankan tidur, terpejam saja tidak. Akalku lelah mencari ide-ide brilian untuk ciptakan kantuk. Tapi ternyata tak bisa. “Allah... aku rindu kantuk!”

***

“Anna tersiksa ummi....”

“Nah sekarang apa yang dapat kamu ambil hikmah?? Sebuah pelajaran bagi hidupmu, belum bisa tidur dalam hitungan hari kamu sudah tidak karuan, apalagi kalau bertahun-tahun kamu seperti ini. Sekarang kamu baru sadar kan,, betapa nikmat Allah itu melimpah, ngantuk itu nikmat.... jangan kamu sepelekan...,” celoteh ummi dengan menatapku gemas.

“Tapi ummi....”

“Dulu kamu sering menyepelekan orang yang susah tidur, mengejek orang dengan menuduhnya macam-macam, sekarang kamu sendiri yang menjalani, seharusnya kamu berfikir sampai kesitu, dan mengambil ibroh dari ini semua,” ummi menegaskan.

“Iya ummi, aku sadar... betapa menderitanya hidup tanpa tidur... baru kali ini aku sadar ummi... betapa nikmat Allah yang diberikan padaku... tapi bagaimana ummi...???” sesalku. Aku masih duduk gusar di hadapan perempuan bermata teduh itu.

“Sudah kamu mencoba dengan membaca buku? Atau menulis?? Sesuatu yang berurusan dengan pena,”

“Sudah Ummi.... tapi sama ajah, aku sudah mencoba tips-tips agar aku bisa tidur, tapi tak jua berhasil, anna bingung ummi....,” kataku lagi.

“Apa yang harus aku lakukan ummi??” pelan kataku menatap bola mata ummiku.

“Ummi tidak tau Nak... hakekatnya yang memberi kantuk itu Allah, bukan ummi. Kalau kamu sudah usaha, tak ada cara lain selain berdoa,” pupus ummi lalu berlalu dari hadapanku.

Aku hanya bingung. Sinar mentari masih bersinar di ufuk barat menerobos celah fentilasi udara menghangatkan suasana. Cahayanya mengirim ketenangan. Aku menatap cahayanya, air mataku melelah pelan. Angin senjam membawa wartanya, bahwa malam akan segera bertandang. Masih ada satu yang aku tunggu, rasa kantuk untuk melebur lelahku.... rasa kantuk untuk mengobati perihnya deritaku....

“Ya Allah ... betapa agungnya kuasa-Mu, betapa berartinya kantuk untuk hidupku.... Betapa besarnya manfaat tidur untuk malam-malamku... maafkan aku Ya Allah.... segera kirimkan kantuk untukku.....,” sepucuk doa kulantunkan di ujung shalat magribku. Kulipat mukena dan sajadahku... mulutku masih berzikir pelan... sementara ragaku masih menunggu. Menunggu... menunggu dan menunggu rasa kantuk menghampiriku.... Ya Allah aku tetap menunggu datangnya satu nikmat-Mu ini....


Karya: Dzikirna Mutiara Yasmin

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. QQTAIPAN .ORG | QQTAIPAN .NET | TAIPANQQ .VEGAS
    -KARTU BOLEH BANDING, SERVICE JANGAN TANDING !-
    Jangan Menunda Kemenangan Bermain Anda ! Segera Daftarkan User ID nya & Mainkan Kartu Bagusnya.
    Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
    1 user ID sudah bisa bermain 7 Permainan.
    • BandarQ
    • AduQ
    • Capsa
    • Domino99
    • Poker
    • Bandarpoker.
    • Sakong
    Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
    Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
    customer service kami yang profesional dan ramah.
    NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
    Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
    • WA: +62 813 8217 0873
    • BB : D60E4A61
    • BB : 2B3D83BE

    BalasHapus

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More